Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, di antara rumah-rumah berdempetan yang nyaris tak menyisakan celah udara, berdiri sebuah rumah seluas 164 meter.
Di tengah pemukiman padat, lahan kosong hampir mustahil ditemukan. Setiap jengkal tanah bernilai tinggi. Bahkan untuk memperluas teras saja, harus meminta izin tetangga kanan-kiri.
Setiap pagi, puluhan anak dari berbagai daerah berdatangan. Mereka melepas sepatu di teras yang sempit, lalu duduk berjejal di atas karpet untuk mendengarkan bacaan talaqqi Alquran dari Ustadz dan Ustadzahnya.
Mereka datang bukan karena paksaan, tapi karena di sini, mereka merasa punya rumah.
Di sini, tak ada yang mengejek mereka karena strata ekonomi. tetapi, mereka datang dengan niat yang besar dari ayah dan ibunya menjadi penerus dan pengemban amanah Alquran.
Tapi kepadatan pemukiman membawa tantangan yang tak terlihat.
Dan yang paling menyedihkan tak ada tempat bermain yang aman. Anak-anak terpaksa bermain di teras yang sempit.
Namun, Allah Maha Mendengar doa orang-orang yang ikhlas.
Biidznillah, saat ini Madrasah Hamalatil Quran memiliki projek yang mulia untuk memperluas lahan madrasah, sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan oleh orang banyak tanpa menganggu rumah yang lainnya.
Kini, di tengah tembok-tembok yang berhimpitan, cahaya Al-Quran masih tetap menyala.
Karena surga tak butuh lahan luas—ia tumbuh dari hati yang ikhlas, dari langkah kecil yang bersatu, dan dari doa anak-anak yang menggema di antara rumah-rumah yang berhimpitan.
Mari bantu wujudkan tempat belajar yang lebih baik bagi para penghafal Quran meski di tengah kota yang sesak.
Karena setiap anak berhak menghafal Al-Quran dalam damai, tanpa takut, dan dengan penuh cinta.
Barangsiapa memudahkan (urusan) orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.
(HR. Muslim)
Langkah mudah berdonasi:
Atau melalui e-wallet: